Ada sebuah kisah yang selalu membuat hati kami bergetar setiap kali mengingatnya. Kisah ini bukan tentang angka, bukan tentang prestasi akademik yang luar biasa, melainkan tentang seorang anak sederhana yang hampir kehilangan semangat untuk belajar.
Dialah Stev, seorang anak kelas 4 SD yang mengubah cara pandang kami terhadap dunia pendidikan, terutama pendidikan anak-anak di kampung dengan segala keterbatasan.
Awal Kisah: Ketika Seorang Anak Menolak Sekolah
Sekitar tahun 2021, pasca pandemi Covid-19 melanda dunia, semua orang merasakan perubahan besar. Kota-kota besar lumpuh, sekolah-sekolah ditutup, bahkan desa dan kampung terpencil ikut merasakan dampaknya. Proses belajar mengajar yang biasanya dilakukan secara tatap muka tiba-tiba berubah menjadi daring, sebuah sistem yang terasa asing bagi banyak anak dan keluarga.
Di tengah situasi itulah, kami bertemu dengan Stev. Ia adalah anak kelas 4 SD, yang pada saat itu menolak untuk bersekolah. Bagi kami, hal ini sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin seorang anak di usia sekecil itu sudah kehilangan semangatnya untuk belajar? Bukankah sekolah adalah gerbang masa depan?
Ketika ditelusuri lebih jauh, alasannya sederhana namun menyayat hati. Saat pandemi, Stev tidak mendapatkan pendampingan belajar dari orang tuanya. Bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena harus bekerja keras demi kebutuhan sehari-hari. Di rumah, tidak ada yang bisa menemaninya belajar, apalagi membantu saat ia kesulitan memahami pelajaran.
Dan ketika sekolah akhirnya dibuka kembali, Stev merasa takut. Ia merasa tertinggal. Ia tidak bisa mengerjakan tugas bahasa Inggris. Rasa malu, trauma, dan ketidakpercayaan diri membuatnya enggan masuk sekolah.
Perasaan yang Membekas
Kami yang mendengar kisah itu merasa sedih sekaligus terpukul. Sungguh disayangkan bila seorang anak berhenti sekolah hanya karena ia kehilangan pendampingan dan dukungan pada masa-masa sulit.
Pada titik itulah kami merasa terpanggil. Kami tidak bisa tinggal diam. Ada perasaan kuat bahwa kami harus membuka ruang belajar bagi anak-anak, sebuah tempat yang bisa menjadi pelengkap ketika sekolah formal tidak mampu menjangkau seluruh kebutuhan anak.
Dari Kisah Itu, Lahir Sebuah Gerakan
Kisah Stev menjadi titik balik yang mendorong kami untuk memulai sebuah langkah kecil: membuka bimbingan belajar.
Bukan karena kami merasa lebih pintar dari guru di sekolah. Bukan juga karena kami punya banyak fasilitas. Justru sebaliknya, kami tahu bahwa keterbatasan kami begitu besar — waktu terbatas, tenaga terbatas, bahkan fasilitas sangat sederhana.
Namun ada satu hal yang kami pegang teguh: jangan sampai masa depan anak-anak menjadi hancur hanya karena mereka kehilangan motivasi belajar sejak kecil.
Kami percaya, dengan ruang kecil yang kami buka ini, anak-anak bisa menemukan kembali semangatnya.
Harapan Kami untuk Anak-anak
Dari hari ke hari, semakin jelas bagi kami bahwa masalah pendidikan anak-anak bukan hanya soal buku atau soal angka di rapor. Ada banyak faktor lain yang memengaruhi:
-
Keterbatasan ekonomi membuat orang tua harus bekerja keras dan tidak bisa mendampingi anak-anak.
-
Kemiskinan waktu karena orang tua terlalu sibuk mencari nafkah.
-
Kurangnya motivasi belajar karena anak-anak merasa tertinggal, malu, atau takut.
Kami berharap, dengan kehadiran bimbingan belajar ini, anak-anak tidak hanya mendapatkan bantuan akademik, tetapi juga dukungan emosional. Kami ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Ada yang percaya pada mereka. Ada yang mau mendengarkan dan menolong mereka.
Mimpi kami sederhana tapi dalam: kami ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang berani berpikir kritis, mampu mengambil keputusan dengan bijak, dan tidak takut bermimpi.
Lebih dari Sekadar Nilai
Seringkali orang hanya menilai pendidikan dari angka-angka: nilai ulangan, nilai rapor, atau ranking kelas. Tapi pengalaman kami bersama anak-anak justru menunjukkan hal yang berbeda.
Anak-anak tidak hanya butuh pengetahuan akademik, tapi juga butuh:
-
Motivasi untuk terus maju meskipun keadaan sulit.
-
Kepercayaan diri untuk bangkit ketika gagal.
-
Keterampilan berpikir agar mampu membuat keputusan sendiri.
Kami percaya, ketika anak berani berpikir kritis dan menggunakan otaknya untuk mencari solusi, mereka bisa menghadapi tantangan apa pun di masa depan.
Bertahan Karena Mimpi
Sejak kisah Stev, hingga hari ini, perjalanan kami tidak selalu mudah. Ada banyak tantangan: keterbatasan dana, tenaga, bahkan kadang rasa lelah yang tak terhindarkan.
Namun setiap kali kami teringat pada anak-anak — terutama mereka yang hampir menyerah pada sekolah — hati kami kembali kuat. Kami sadar, perjuangan ini bukan hanya tentang hari ini, tapi tentang masa depan generasi berikutnya.
Kami ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang percaya diri, mandiri, dan berani menentukan langkah hidupnya.
✨ Mengajar dengan Hati
Kisah Stev akan selalu menjadi pengingat bagi kami. Bahwa satu anak bisa menginspirasi sebuah gerakan. Bahwa satu anak bisa membuka mata banyak orang akan pentingnya ruang belajar alternatif.
Bimbel Jojo bukanlah tempat yang sempurna. Kami hanyalah sekelompok orang dengan mimpi dan kepedulian. Namun kami percaya, selama kami terus berjuang dengan hati, ada banyak anak yang akan terbantu.
Kami ingin tetap membuka ruang bagi mereka yang membutuhkan, karena kami percaya setiap anak berhak mendapatkan masa depan yang cerah, apa pun latar belakangnya.
Dan semoga, di masa depan, anak-anak yang pernah kami dampingi akan tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana, kritis, dan siap membangun dunia dengan pikirannya.

